Radio
sebagai Media Pendidikan dan Komunikasi Politik
Oleh : M. Alwi Dahlan *)
(Prasaran pada Diskusi Peran Strategis Radio dalam Rangka Membangun
Indonesia Baru. Diselenggarakan oleh Direktorat Radio, Direktorat
Jenderal Radio- Televisi dan Film. Departemen Penerangan RI.
Jakarta, 16 Maret 1999)
Abstrak
Sejak PD II, radio telah menunjukkan kekuatannya sebagai media
pendidikan dalam arti luas, dan media komunikasi politik, termasuk
pendidikan politik. Fungsi pokok media komunikasi massa termasuk
radio yaitu meliputi pengamatan/pengawasan lingkungan (surveillance
of the environment). Bagi masyarakat fungsi pokok radio sebagai
sumber informasi, kemudian fungsi kedua, pengembangan konsensus.
Konsensus terkait dengan sosialisasi atau fungsi pendidikan dalam
arti luas. Kedepan fungsi hiburan akan meningkat. Kecenderungan
penggabungan fungsi pendidikan dan informasi melakukan bentuk
komunikasi baru infotainment dan edutainment.
Perubahan fungsi komunikasi dan efektivitas sejalan dengan fungsi
media massa. Media radio yang semula sebagai institusi pelayanan
sosial (politik) menjadi institusi komunikasi swasta. Perkembangan
ekonomi dengan persaingan sengit (berebut pasar dan iklan) membawa
media radio masuk dalam industri yang meliput titik haru secara
maksimal namun juga global yang tidak terlepas dari kemajuan
teknologi. Implikasinya fungsi media sebagai media pendidikan makin
terbatas.
Pendidikan dan komunikasi politik, termasuk pendidikan politik
bukanlah bidang yang asing samasekali bagi media radio. Kedua hal
itu adalah fungsi yang dapat dikatakan sudah melekat pada media
radio.
Kiprah radio sebagai media komunikasi politik mempunyai sejarah yang
panjang sejak Perang Dunia II, dan sebagai media pendidikan dalam
arti kata yang luas telah berkembang semenjak awal kelahirannya.
Potensinya luar biasa. Di Indonesia, dengan konfigurasi stasiun RRI,
radio Pemda dan radio siaran swasta yang terpencar di seluruh tanah
air, secara teoritis hampir tidak satupun dari 4028 kecamatan di 314
kabupaten/kotamadya yang luput dari jangkauan sinyal salah satu
diantaranya. Jangkauannya makin berarti karena tingginya pemilikan
pesawat penerima pada segenap lapisan masyarakat - termasuk yang
paling bawah sekalipun. Mungkin tidak berlebihan apabila dikatakan
bahwa potensi media radio adalah yang terbesar diantara semua media
massa di Indonesia.1 Tidak ada satu pun media massa lain yang akan
mampu menandingi potensinya untuk melakukan komunikasi cepat kepada
semua warganegara yang berhak memilih ketika dihadapkan dengan
kendala batas waktu yang sempit seperti ketika menjelang Pemilu yang
lalu.
Kendati demikian, daya jangkau dan kemampuan khalayak untuk menerima
siaran hanyalah faktor teknis yang mendukung berlang-sungnya
komunikasi media, tetapi belum dapat menentukan efektivitas. Apakah
potensi kuantitatif di atas dapat direalisir dalam/secara kualitatif
dalam proses komunikasi atau tidak, serta bagaimana efektivitas
media ini dalam melaksanakan tugasnya, akan tergantung pula pada
banyak hal lain, termasuk cara penilaian dan tolok ukur yang
dipakai.
Dalam menilai kiprah media massa- termasuk radio - paling tidak
perlu diingat tiga hal. Pertama, pendidikan dan komunikasi politik
belum mencakup keseluruhan fungsi media komunikasi massa; ada fungsi
lain dari media massa yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat,
malah kadang-kadang mungkin lebih menonjol dan diprioritaskan.
Kedua, media massa bukanlah sekedar penyalur lalu lintas informasi
yang hanya mengutamakan idealisme sosial tetapi telah berkembang
menjadi suatu industri yang harus memperjuangkan keberadaannya
sendiri. Ketiga, kemampuan dan kinerja media massa mempunyai kaitan
yang sangat erat dengan masyarakat yang dicerminkannya. Masyarakat
itu berkembang dan berubah, membawakan perubahan terus menerus pada
dunia media massa.
Fungsi Media Komunikasi
Fungsi dan peranan media massa yang pernah disebut dalam masyarakat
kita cukup beraneka ragam, mencerminkan harapan dan keinginan
politis yang berubah dari zaman ke zaman terhadap komu-nikasi massa,
umpamanya radio sebagai alat perjuangan atau alat revolusi, media
pembangunan, pers Pancasila, dsb. Namun dari segi kajian komunikasi
maka fungsi media massa (tidak terkecuali media radio) pada intinya
tidak banyak berubah semenjak dahulu. Fungsi pokok ini meliputi
pengamatan atau pengawasan lingkungan (sur-veillance of the
environment), korelasi dari berbagai bagian masyarakat guna
menciptakan konsensus, sosialisasi atau pewarisan budaya dan fungsi
hiburan.2
Fungsi-fungsi ini tidak selalu dapat dijalankan sekaligus. Salah
satu diantaranya mungkin mendapat prioritas utama oleh suatu media
pada suatu ketika, sehingga meng-abaikan fungsi lainnya. Bila fungsi
hiburan yang diutamakan, misalnya, maka komunikasi yang memenuhi
fungsi pengamatan tidak akan mungkin dijalankan dengan efektif.
Efektivitas media dalam mengkomu-nikasikan suatu substansi ikut
diten-tukan oleh fungsi yang diutamakan media yang bersangkutan.
Fungsi radio yang sering diutamakan adalah fungsi yang pertama. Bagi
masyarakat, fungsi pokok radio dari waktu ke waktu radio adalah
sebagai sumber informasi serta sarana komunikasi untuk mengamati
perubahan lingkungan yang langsung dapat mempengaruhi kehidupan
khalayak pendengar. Media ini dapat didengarkan kapan saja, di mana
saja, sehingga dapat memberi-tahukan perubahan keadaan terakhir
secara cepat. Makin tidak menentu keadaan, makin tinggi rasa
ketidakpastian, makin ramai isu, makin cepat perkembangan, makin
lengket pula pendengar dengan radionya - seperti yang terjadi pada
waktu maraknya demo dan kerusuhan, ketika menghadapi datangnya
bahaya bencana alam, atau saat ramainya isu tentang gejolak mata
uang dan likuidasi bank. Masyarakat ingin mendapat informasi untuk
mengambil langkah guna mengamankan diri, keluarga, harta dan hal-hal
yang dianggapnya penting. Dalam keadaan yang lebih tenang, fungsi
ini (disebut juga fungsi informasi) tetap diperlukan khalayak, yang
ingin mengetahui datangnya berbagai peluang dan kesempatan baru di
samping potensi ancaman, gangguan atau berkurang-nya kenyamanan yang
dapat muncul sewaktu-waktu.
Fungsi kedua, pengembangan konsensus melalui media massa, biasanya
mengemuka pada waktu timbulnya perkembangan ke arah perubahan.
Setelah mendapat informasi tentang perkembangan baru yang dianggap
penting, masyarakat membicarakannya dari berbagai segi serta
menelaah implikasinya bagi mereka. Secara formal khalayak bertukar
pikiran melalui media - atau tanpa media namun dirangsang oleh media
- dan mencoba mencari kesepakatan : apa perlu reaksi bersama, dan
kalau demikian apa yang harus dilakukan. Kesepakatan ini tidak hanya
tentang soal yang serius seperti masalah politik, tetapi dapat juga
yang sepele. Seribu satu hal, termasuk nilai sosial budaya tentang
apa yang baik dan buruk, gaya hidup baru, fesyen, penyakit, cuaca,
dsb., disepakati melalui wacana media radio. Radio berfungsi sebagai
media pembentuk konsensus, misalnya dengan melaporkan trend yang
menarik ditiru atau makin luas diterapkan, berulang-ulang memainkan
lagu baru yang paling populer (Top Ten) pada suatu waktu, menyiarkan
rangkaian diskursus yang menuju kepada kesamaan pendapat, dsb. Atau
sebaliknya, media massa dapat juga memainkan peranan secara
disfungsional, misalnya dengan mengabaikan pendapat yang berbeda
yang datang dari orang lain, dan dengan cara begitu melakukan
manipulasi untuk menimbulkan persepsi mengenai tercapainya
kesepakatan bersama.
Terkait erat dengan konsensus adalah sosialisasi. Secara ringkas,
sosialisasi adalah fungsi pendidikan dalam arti kata yang luas.
Media massa meneruskan apa yang telah disepakati, baik yang baru
maupun yang lama. Kesepakatan lama yang telah menjadi warisan budaya
termasuk pengalaman bangsa, nilai-nilai tradisional, adat istiadat,
dsb, dimuat media untuk memper-lengkapi pengetahuan generasi muda
dan mengingatkan generasi tua. Yang baru disosialisasikan untuk
mengukuhkan dan mengajarkan konsensus yang baru diputuskan.
Kita tentu masih ingat bahwa pada masa permulaan dari setiap media
massa, sosialisasi adalah fungsi yang paling penting. Program radio
tahun 1950-an, umpamanya, sarat dengan muatan pendidikan - bahkan
banyak acara siaran yang praktis tidak ubahnya dengan pelajaran
seperti di sekolah. Keadaan sudah berbeda. Fungsi pendidikan kini
makin berkurang dilaksanakan, digantikan oleh fungsi keempat, yaitu
hiburan.
Trend ke depan akan lebih meningkatkan fungsi hiburan. Perkembangan
zaman yang kian kompleks, dengan tempo yang makin tinggi,penuh
perubahan dan tuntutan berat (demanding),menimbulkan kejenuhan dan
tekanan hidup yang harus diimbangi dengan hal-hal yang lebih ringan,
yang dapat mengurangi ketegangan, menimbulkan inspirasi baru, atau
membuka kesempatan ‘pelarian’ sesaat guna menyegarkan diri dan
mengembalikan keseim-bangan. Begitu rupa pentingnya hiburan dewasa
ini, sehingga pendidikan dan informasi melalui media massa -
terutama radio dan teve - makin cenderung digabungkan (konvergen)
dengan hiburan, berkembang ke arah bentuk komunikasi baru
infotainment dan edutainment. Komunikasi bunglon ini memudahkan
penerimaan pesan tetapi sebaliknya dapat mengurangi efektivitas
komunikasi khalayak penerima mungkin lebih menyerap muatan
hiburannya ketimbang muatan informasi yang dikomu-nikasikan.
Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa tekanan atau pengutamaan
pada suatu fungsi dapat mengurangi pelaksanaan fungsi yang lain.
Masing-masing fungsi dapat menjadi kendala atau dikendalai oleh
pelaksanaan fungsi yang lain. Dengan kata lain, efektivitas sesuatu
fungsi komunikasi dapat dipengaruhi atau berkurang oleh fungsi lain.
Media sebagai Industri
Perkembangan fungsi komuni-kasi dan efektivitas tersebut dipengaruhi
lebih lanjut dan sejalan dengan perubahan fungsi media massa - tidak
terkecuali radio - sebagai institusi dalam masyarakat. Radio sebagai
media komunikasi massa boleh dikatakan lahir secara ‘kebetulan.’
Mulanya sebagai pengembangan hobi amatir menjadi institusi pelayanan
sosial; ia memanfaatkan kemampuan lebih dari prasarana navigasi
untuk memberikan informasi tentang cuaca, bahaya alam, dan keadaan
darurat. Ketika ternyata efektif untuk komunikasi informasi dalam
masyarakat, radio berkembang menjadi institusi sosial dan politik
yang lebih resmi, digunakan sebagai media komunikasi politik
nasional dan internasional. Fungsi sebagai institusi resmi inilah
yang mewarnai peranan radio secara dominan hampir di seluruh dunia,
kecuali di negara demokrat Barat, selama waktu yang cukup panjang. 3
Dengan perkembangan politik dan ekonomi global sejak 15 - 20 tahun
terakhir, media radio mengalami perubahan institusional, bergeser
dari institusi sosial politik yang resmi menjadi institusi
komunikasi swasta yang dimiliki masyarakat. Radio berkembang menjadi
bagian dari industri komunikasi yang dikelola dan diatur sebagai
layaknya unit ekonomi. Faktor yang menentukan makin lama makin lepas
dari pemerintah atau kelompok politik, beralih ke kekuatan bisnis
dan ekonomi pasar. Radio bukan lagi merupakan media komunikasi
sosial yang lebih mengutamakan nilai-nilai dan idealisme sosial
politik dalam menentukan muatan komunikasi yang hendak dibawanya
kepada masyarakat. Melainkan suatu industri yang kebetulan saja
bergerak dalam produksi informasi massa, dan dengan demikian harus
lebih mengutamakan faktor-faktor ‘baru’ yang menentukan kelangsungan
hidupanya seperti modal dan keuntungan, pangsa pasar, selera
konsumen, persaingan, serta trend global.
Pertimbangan ekonomi itu tercermin pula pada perkembangan ciri-ciri
dan peranan media radio akhir-akhir ini. Sebagai akibat dari
persaingan yang kian sengit dalam memperebutkan pasaran dan iklan
industri mulai ‘berkembang’ sebagai institusi lokal. Peranan,
muatan, dan sifat siaran makin ditujukan kepada daerah yang
terbatas, untuk memenuhi fungsi media bagi konsumen dengan budaya
dan sifat yang makin khusus. Kecenderungan ini bukan saja terjadi
karena persaingan antar stasiun radio pada tataran nasional tetapi
juga mulai merambah pada tataran global, baik karena munculnya
saingan dari televisi global tetapi di masa depan makin meningkat
berkat kemajuan teknologi.4
Lebih dari itu trend perkem-bangan radio akan makin menuju kepada
segmentasi yang bertambah tinggi, dengan khalayak sasaran yang makin
selektif, dengan ciri demografis dan budaya komunikasi yang semakin
tajam. Radio makin merupakan media yang bersifat personal dan mobil,
menemani pendengar setianya kemanapun dia pergi - nanti bukan saja
terbatas pada wilayah siaran tertentu tetapi juga keluar negeri
melalui fasilitas online.
Perkembangan seperti itu akan banyak pula dipengaruhi oleh dinamika
perubahan masyarakat yang sedang terjadi secara luas. Baik dalam
perilaku, gaya hidup, maupun kebutuhan informasi.
Pendidikan dan Komunikasi Politik
Apa implikasi uraian di atas terhadap pendidikan dan komunikasi
politik? Seperti telah dikemukakan terdahulu, fungsi radio sebagai
media pendidikan akan makin terbatas, disaingi oleh fungsi lain yang
lebih mendesak. Fungsi pendidikan memang masih penting, tetapi dalam
pelaksanaannya akan makin bercam-pur dengan fungsi hiburan dalam
bentuk baru sebagai ‘dikbur’ atau edutainment.
Khusus mengenai komunikasi politik, bentuk komunikasi ini sebenarnya
termasuk ke dalam beberapa fungsi lain, terutama pengembangan
konsensus. Di samping itu juga tercakup dalam fungsi sosialisasi
dalam hal pendidikan politik.
Dalam menelaah komunikasi politik melalui media massa kita dapat
melihat dari dua sudut : (a) komunikasi tentang politik dan (b)
komunikasi untuk politik. Komuni-kasi tentang kehidupan politik
memberikan pengetahuan kepada umum tentang perkembangan politik,
termasuk pendidikan politik. Misalnya untuk menanamkan kesadaran
hidup berbangsa dan bernegara, menjelaskan kebijakan dan masalah
politik agar masyarakat dapat menentukan sikap, meningkatkan
partisipasi politik seperti dalam Pemilu, atau mengembangkan budaya
demokrasi dan prinsip-prinsip masyarakat madani. Dalam hal ini
permasalahan yang dihadapi tidak jauh berbeda dari masalah
sosialisasi.
Komunikasi untuk mencapai tujuan politik mempunyai sifat yang
berbeda. Dalam hal ini, komunikasi bukasn sekedar sosialisasi tetapi
merupakan upaya persuasi untuk memanfaatkan konsensus. Tujuan
komunikasi dalam hal ini adalah untuk mempengaruhi arah
kebijaksanaan pemerintah atau pembuatan peraturan
perundang-undangan, perubahan sistem bahkan struktur negara,
membangkitkan dukungan masyarakat, menciptakan pressure (penekan)
guna kepentingan sendiri, kelompok, atau partai politik, mengubah
persepsi politik masyarakat, mendapatkan akses politik. Tujuan
komunikasi politik yang paling dasar meskipun tidak selalu mau
diakui, adalah untuk memperoleh kekuasaan politik (power) - bahkan
kadang-kadang ada yang dilakukan dengan menghalal segala cara,
termasuk yang tidak demokratis melalui perebutan kekuasaan dengan
cara kekerasan. Radio (dan media siaran lain) mempunyai potensi yang
kuat dalam hal ini, sebagai terlihat pertarungan politik, misalnya,
coup d’etat selalu dimulai dengan merebut/menduduki stasiun radio
(sekarang juga TV).
Meskipun memang dapat dimanfaatkan - bahkan disalah-gunakan - untuk
kepentingan politik yang bersifat sepihak dari sautu golongan saja,
tentu perlu diingat bahwa betapa pun juga radio mempunyai tanggung
jawab sebagai media komunikasi kepunyaan seluruh masyarakat.
Walaupun media ini sudah merupakan industri, tanggung jawabnya tidak
berkurang karena sebagai media penyiaran radio mempergunakan
frekuensi yang menjadi sumber alam milik bersama dari seluruh
masyarakat (public domain).
Di samping itu watak khusus radio yang dijuluki Marshall McLuhan
sebagai ‘media panas’ (hot media) menuntut tanggung jawab
pengelolaan yang lebih hati-hati dari penyelenggara siaran. Berbeda
dari media cetak, yang dapat dirujuk dan dibaca berulang-ulang oleh
khalayak, komunikasi radio merupa-kan proses yang sangat dinamis.
Sekali didengar dan diinterpretasikan secara salah - apa lagi kalau
langsung diikuti reaksi fisik, tidak ada lagi kesempatan untuk
menelaah, menguji atau meralatnya.
Terlepas dari hal itu, kendala yang dihadapi komunikasi politik
melalui radio tidak berbeda dari hal-hal yang telah disebutkan
terdahulu. Walaupun dapat dengan mudah ‘membakar’ khalayak, sifatnya
yang makin tersegmentasi, lokal, penuh persaingan dan personal,
menghen-daki perencanaan yang matang apabila hendak dipakai untuk
komunikasi politik besar-besaran - katakan umpamanya untuk kampanye
Pemilu. (Berapa banyak stasiun, yang mana di lokasi seperti apa yang
harus dilibatkan, dengan ragam versi pesan serta gaya komunikasi
yang khas yang seperti apa, yang harus dipersiapkan untuk mencapai
seluruh calon pemilih).
KEPUSTAKAAN
Biro Pusat Statistik. Statistik Sosial Budaya Hasil Susenas, 1991.
BPS, 1992: hal.61
Dahlan, M.Alwi. "Perkembangan Komunikasi Politik sebagai Bidang
Kajian." Jurnal Ilmu Politik 6, 1990: 3-20
Dominick, Josep R. The Dynamics of Mass Communication, Third
Edition. McGraw-Hill, 1990: 170 - 199
Direktorat Jenderal Radio - Televisi - Film. Data dan Fakta RTF
Tahun 1997/1998 dan Program Kerja Tahun V Pelita VI 1998/1999,
Ditjen RTF, 1998; 275
Rogers, Everett M. A Histriy of Communication Study: A Biographical
Approach. Free Press, 1994; 203 - 243
Schramm, Wilbur. "How Communication Works" dalam Schramm, The
Process and Effect of Mass Communication, Univ. of Illionis Press,
1954; 3 - 36
"The Nature of Communication between Human" dalam Schramm & Donald
Roberts. The Process and Effects of Mass Communication, Revised
edition. UI Press, 1972; 3 - 53
Hiebert, R.E. Ungurail, D.F & Bohn, T.F. Mass Media VI : An
Introduction to Modern Communication. Longman, 1991; 279 - 303
Littlejon, Stephen W.. Theories of Human Communication, Fifth
Edition. Wadsworth, 1996: 333 - 334.
1 Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di
berbagai daerah di seluruh Indonesia, belum termasuk stasiun radio
yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998. Wilayah jangkauannya
secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan
Nusantara - meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan
dapat mencakup setiap desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih
dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus yang diperlukan
khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau
keterampilan membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja
sudah lebih dari 69% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas
mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu’, angka ini diperkirakan
telah meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio
oleh masyarakat sudah begitu merata dan banyak, sehingga statistik
mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat: Direktorat
Jenderal RTF (199, BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan
kelurahan adalah data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
2 Tiga fungsi pertama, yang dirumuskan oleh Harold Lasswell pada
tahun 1948 ini boleh dikatakan tidak pernah berubah karena ternyata
memang dapat menjelaskan segala macam bentuk komunikasi, setelah
ditambahkan dengan fungsi hiburan oleh Schramm pada tahun 1952.
Lihat: a.l Schramm (1972), Rogers (1994) dan Littlejohn (1996).
Mungkin menarik untuk dicatat dalam konteks seminar ini, bahwa
Lasswell adalah seorang ahli ilmu politik yang sekaligus turut
merintis ilmu komunikasi, ia mengembangkan pemikirannya tentang
fungsi komunikasi berdasarkan studi dalam propaganda dan kampanye
politik, bidang yang kini lebih dikenal sebagai cikal bakal dari
sub-disiplin ‘komunikasi politik’.
3 Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua
arah perkembangan. Di dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang
sebagai industri non pemerintah penunjang kehidupan ekonomi dan
politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan
sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara;
perhatikan misalnya Voice of America, Radio Free Europe, dsb. Di
Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam negeri
sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah
walaupun dengan sifat yang independen, umpamanya BBC. (Untuk
informasi mengenai perkembangan radio sebagai institusi, lihat:
Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
4 Dengan teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas
mulai pula berkembang sebagai radio global melalui jaringan
internet. Setidaknya ratusan stasiun radio lokal dari segenap
penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara
online.
http://www.pustekkom.go.id/teknodik/
Tanggal : 5/5/2005, Posted By : myadmin